KESEYOGYAAN PENANGANAN PENDERITA

22 Mar 2023

KESEYOGYAAN  PENANGANAN  PENDERITA


Mengobati  Tanpa  Menimbulkan  Penderitaan  Baru  Tambahan

Dengan mewajibkan pasien untuk berpantang makan atau aktivitas lain seperti kegiatan seksualnya, maka larangan ini akan menciptakan penderitaan baru bagi pasien, yang ditumpukkan ke atas penderitaan akibat penyakitnya. Orang awam yang tidak bergelut di dalam bidang pengobatan pun mengetahui secara jelas bahwa pasien harus berpantang jika hendak sembuh, tidak perlu berkunjung ke pengobat untuk memeroleh pelarangan tersebut. Pengobatan yang baik dan manusiawi haruslah dapat menyamankan pasien dengan cara menyembuhkan penyakitnya sambil membiarkannya tetap melakukan aktivitas kesukaannya.


Pengobatan  Yang  Baik  Tidak  Mengubah  Perilaku  Hidup  Pasien

Adalah tugas pengobat untuk memberikan pengobatan yang dapat menetralisir kebiasaan pasien yang menyebabkannya sakit, bukan mengambil jalan pintas secara gampang dengan melarang pasien melakukan kebiasaannya. Pasien harus dibiarkan tetap melaksanakan kebiasaannya yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, dan bahkan puluhan tahun. Misalnya: pasien diabetes harus diberikan obat yang dapat menurunkan kadar gula darahnya secara sangat signifikan, berapa pun asupan karbohidratnya yang dikonsumsi oleh pasien, tanpa harus menyuruh pasien berpantang makanan yang berkarbohidrat tinggi.


Pantangan  Seharusnya  Tidak  Digolongkan  Sebagai  Tindak  Pengobatan

Dengan demikian, pasien tidak perlu berpantang apapun, baik makanan maupun kegiatan tertentu, terkecuali pada saat serangan sedang menghebat maka harus berpantang untuk beberapa hari saja guna memberi kesempatan kepada obat untuk melawan penyakit yang sudah parah. Akan tetapi, setelah serangan berlalu, pasien harus dibiarkan kembali untuk menjalankan kebiasaannya dalam hal pola dan gaya makan. Pengobatan yang baik, bukan saja tidak menekankan pemantangan makanan tertentu tetapi sebaliknya malah menambahkan jenis makanan tertentu yang berkhasiat, ke dalam menu makanan pasiennya.


Bukan  Pelarangan  Tetapi  Malah  Penambahan  Variasi  Makanan

Misalnya: penderita penyakit maag (Gastritis) tidak perlu berpantang makanan pedas atau asam, tetapi malah harus menambah makanannya dengan kulit sapi, durian jenis tertentu. Penderita wazir tidak perlu berpantang cabe. Penderita kolesterol tinggi tidak perlu memantang lemak, namun justru harus menambah makanannya dengan buah dan bumbu dapur tertentu. Penderita hipertensi tidak perlu memantang kegiatan seksual dan garam atau daging kambing, tetapi harus menambah makanannya dengan sayur Ku Chai, timun, seledri, buah Shan Za (Hawthorn), belimbing, sambil mengonsumsi obat yang diberikan.


Tugas  Pengobat  Dan  Pakar  Untuk  Menemukan  Obat  Yang  2  In  1

Pasien yang terkena penyakit peninggian kadar asam urat dalam darah, juga tidak perlu dilarang untuk memakan jeroan. Begitu pula obat antiobesitas harus mampu membuat penderita menjadi kurus, sambil tetap membiarkan pasiennya menikmati makanan kesukaannya dan dalam jumlah sebagaimana takaran kebiasaannya. Obat yang sungguh-sungguh baik dan benar serta manusiawi adalah obat yang dapat mengobati penyakit dan sekaligus menetralisir kebiasaan buruk dari pasien. Lebih-lebih mengingat peninggian kolesterol dalam darah ternyata adalah mekanisme tubuh untuk melawan osteoporosis.


Jangan  Sampai  Sudah  Jatuh  Tertimpa  Tangga  Pula

Pemantangan hanya akan membuat pasien menjadi sangat menderita, apalagi biasanya pasien yang dibatasi makanannya itu, pada umumnya adalah orang yang telah berumur paruh baya di mana masa hidupnya sudah tidak terlalu lama lagi di dunia ini. Dengan sisa umurnya yang sudah tidak seberapa lama itu, orang dipasung kenikmatan hidup yang hanya tinggal sebentar saja dapat dinikmatinya itu, maka ilmu pengobatan akan tampak sangat kejam dan tidak manusiawi, karena pada akhirnya, penyakitnya tokh tidak akan pernah sembuh total. Menyengsasarakan pasien pun sejatinya harus tergolong sebagai malpraktik.


Obat  Bukan  Untuk  Hidup  Abadi  Tetapi  Agar  Hidup  Menjadi  Nyaman

Pasien tetap akan mati dengan penyakit yang tetap melekat, namun kebahagiaan duniawinya telah terampas. Mati secara amat mengenaskan. Ada kemungkinan bahwa pemantangan berbagai kegiatan, justru menyebabkan pasien menjadi lebih cepat mati ketimbang jika tetap melaksanakan kegiatannya itu. Pasien mati dalam keadaan menderita batin akibat berbagai larangan, artinya, pasien mengalami penderitaan ganda, sehingga mengalami kerugian dua kali. Prinsip pengobatan yang baik, bukan membuat orang tidak mati-mati, melainkan agar hidup yang tidak lama ini menjadi tidak sengsara dan bisa dilalui secara nyaman.


Sumber: Buku Kembali Ke Alam (Back to Nature)

oleh Dr. Aggi Tjetje & Dr. Some

(Suatu Tinjauan Mendalam Akan: Kiprah dan Sumbangsih Serta Pengabdian Pengobatan Tradisional Dalam Pembangunan Nasional)